Addendum dalam Perspektif Hukum Islam: Kajian Konseptual tentang Dasar Kebolehan, Syarat Keabsahan, dan Batasan Substantif

Authors

  • Eka Wahyu Hestya Budianto Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim image/svg+xml Author

Keywords:

addendum, islamic contract, freedom of contract, shurūṭ al-muqtarinah, islamic law

Abstract

This article examines the concept of addendum—an additional document that modifies or supplements a contract without replacing the principal agreement—from the perspective of Islamic law. Although the term “addendum” is not recognized as a standard terminology in classical fiqh, its underlying concept aligns with the principles of Islamic contract law, particularly the doctrine of shurū al-muqtarinah bi al-’aqd (conditions/clauses accompanying a contract). Employing a normative literature review of contemporary fiqh muamalah sources, this article identifies that: (1) addenda are justified based on the principle of ibāah, contractual freedom, and the binding force of contracts; (2) the validity of an addendum requires the fulfillment of the pillars and conditions of a contract, mutual consent (ridha), absence of defective consent, and clarity of clauses to avoid gharar; and (3) addenda are subject to substantive limitations, including prohibitions on riba, gharar, ikrah, and one-sided clauses that compromise balance and justice. This study also discusses specific addendum issues in the Indonesian context, encompassing force majeure clauses, sanctions (ta’zīr and ta’wī), collateral, and dispute resolution through tahkim. It is concluded that an addendum constitutes a valid instrument under Islamic law, provided it meets Sharia parameters and does not contravene the Qur’an or Sunnah.

Artikel ini mengkaji konsep addendum—dokumen tambahan yang mengubah atau melengkapi isi perjanjian tanpa mengganti perjanjian pokok—dalam perspektif hukum Islam. Meskipun istilah “addendum” tidak dikenal sebagai terminologi baku dalam fiqh, gagasan dasarnya sejalan dengan prinsip-prinsip akad syariah, khususnya doktrin syurūṭ al-muqtarinah bi al-’aqd (syarat/klausul yang menyertai akad). Dengan menggunakan metode kajian pustaka normatif terhadap sumber-sumber fiqh muamalah kontemporer, artikel ini mengidentifikasi bahwa: (1) addendum dapat dibenarkan berdasarkan asas ibāḥah, kebebasan berakad, dan kekuatan mengikat akad; (2) keabsahan addendum mensyaratkan terpenuhinya rukun-syarat akad, kerelaan (ridha), ketiadaan cacat kehendak, dan kejelasan klausul untuk menghindari gharar; serta (3) addendum memiliki batasan substantif berupa larangan riba, gharar, ikrah, dan klausul berat sebelah yang mencederai keseimbangan dan keadilan. Kajian ini juga membahas isu-isu spesifik addendum dalam konteks Indonesia, mencakup klausul force majeure, sanksi (ta’zīr dan ta’wīḍ), jaminan/agunan, serta penyelesaian sengketa melalui tahkim. Disimpulkan bahwa addendum merupakan instrumen yang sah menurut hukum Islam selama memenuhi parameter syariah dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an maupun as-Sunnah.

References

Aziz, I. (2019). Asas kebebasan dalam berkontrak menurut hukum Islam. Bilancia: Jurnal Studi Ilmu Syariah dan Hukum, 13(2), 383–400. https://doi.org/10.24239/blc.v13i2.500

Baidhowi, B. (2018). Rekonstruksi akad murabahah (studi akad murabahah di BMT SM NU Pekalongan). Yudisia: Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, 8(2), 221. https://doi.org/10.21043/yudisia.v8i2.3237

Cindawati, C. (2017). Perkembangan perjanjian dalam praktik perdagangan (perspektif hukum Islam dan hukum positif). Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah, 7(2), 219. https://doi.org/10.18860/j.v7i2.3717

Djuniarti, E. (2018). Adopsi hukum asing ke dalam hukum nasional (tinjauan terhadap perjanjian bank syariah). Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 18(4), 497–512. https://doi.org/10.30641/dejure.2018.v18.497-512

Ferdiana, N. (2023). Akad qardh dan wakalah bil ujrah dalam transaksi financial technology syari’ah peer to peer lending. Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi Keuangan & Bisnis Syariah, 6(1), 443–470. https://doi.org/10.47467/alkharaj.v6i1.3535

Ferdiana, N. (2024). Akad qardh dan wakalah bil ujrah dalam transaksi financial technology syari’ah peer to peer lending: perspektif Fatwa DSN-MUI Nomor 117/DSN-MUI/II/2018. Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi Keuangan & Bisnis Syariah, 6(1), 323–350. https://doi.org/10.47467/alkharaj.v6i1.208

Fidhayanti, D. (2014). Perjanjian baku menurut prinsip syariah (tinjauan yuridis praktik pembiayaan di perbankan syariah). De Jure: Jurnal Hukum dan Syari’ah, 6(2). https://doi.org/10.18860/j-fsh.v6i2.3206

Firdaus, M. A., & Tazkiyyaturrohmah, R. (2023). Perbandingan fiqh tentang akad tidak bernama. At-Tasyri’: Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, 5(01), 1–19. https://doi.org/10.55380/tasyri.v5i01.560

Hidayanto, B. I. (2023). Kohesi klausul basmalah pada perjanjian syariah pada lembaga keuangan syariah di Indonesia. Sanskara Ekonomi dan Kewirausahaan, 2(01), 50–60. https://doi.org/10.58812/sek.v2i01.269

Hidayat, M. R., & Komarudin, P. (2017). Klausul overmacht dalam akad murabahah di perbankan syariah. Al Iqtishadiyah: Jurnal Ekonomi Syariah dan Hukum Ekonomi Syariah, 3(1), 36. https://doi.org/10.31602/iqt.v3i1.1006

Hosen, M. N. (2012). Tinjauan akad murabahah li al-amr bi ashira. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 12(2), 165. https://doi.org/10.18326/ijtihad.v12i2.165-178

Ilmi, F. (2020). Implementasi asas kesetaraan dalam akad pembiayaan murabahah pada KPR-BTN iB di BTN Syariah Cabang Banjarmasin. Shar-E: Jurnal Kajian Ekonomi Hukum Syariah, 6(2), 53–68. https://doi.org/10.37567/shar-e.v6i2.129

Indrayani, D. (2022). Tinjauan fiqh muamalah pada praktik sewa jasa laundry syariah Arransha. Lentera: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, 3(2), 113–130. https://doi.org/10.32505/lentera.v3i2.3688

Ingka, H., Mansyur, F., & Mustika, M. (2020). Fatwa DSN MUI klausul denda dan ganti rugi pada skim KPR syariah. Laa Maisyir: Jurnal Ekonomi Islam, 7(2), 261. https://doi.org/10.24252/lamaisyir.v7i2.17560

Journal, E. H., Pratiwi, W., Hamid, A., & Said, K. (2021). Tinjauan fikih muamalah tentang pelaksanaan klausul baku dalam perjanjian pengiriman barang PT TIKI JNE Kota Pekalongan. El Hisbah: Journal of Islamic Economic Law, 1(1), 49–62. https://doi.org/10.28918/el_hisbah.v1i1.3805

Kalsum, U. (2017). Praktik murabahah pada perbankan syariah di Kendari. Al-Ulum, 17(1). https://doi.org/10.30603/au.v17i1.117

Mauluddin, Moh. (2018). Pembiayaan murabahah dalam perspektif Fatwa DSN-MUI. Qawānīn: Journal of Economic Syaria Law, 2(1), 1–19. https://doi.org/10.30762/q.v2i1.1044

Mumin, Muh. D. N. A., Kurniadi, K., & Atma, A. M. (2024). Eksistensi akad dalam transaksi keuangan syariah. Journal of Management and Innovation Entrepreneurship (JMIE), 1(2), 351–357. https://doi.org/10.59407/jmie.v1i2.456

Mustafa, M. A. (2020). Penetapan denda terhadap pembiayaan bermasalah pada perbankan syariah. At-Tijarah: Jurnal Penelitian Keuangan dan Perbankan Syariah, 2(2), 159–175. https://doi.org/10.52490/at-tijarah.v2i2.914

Nurbaedah, N., & Machmud, Y. (2021). Fungsi agunan dalam perbankan syariah dari perspektif hukum positif dan hukum Islam. Qawānīn: Journal of Economic Syaria Law, 5(1), 13–32. https://doi.org/10.30762/qawanin.v5i1.3010

Oslami, A. F. (2022). Kedudukan Pengadilan Agama dan BASYARNAS dalam menyelesaikan sengketa ekonomi syariah. At-Tasyri’: Jurnal Ilmiah Prodi Muamalah, 27–40. https://doi.org/10.47498/tasyri.v14i1.860

Prawiro, A. (2022). Aktualisasi akad dalam fikih muamalah bagi lembaga keuangan syariah. Tasyri’: Journal of Islamic Law, 1(2), 215–252. https://doi.org/10.53038/tsyr.v1i2.30

Samsuardi, S., & Maulana, M. (2013). Analisis sewa menyewa paralel pada perusahaan rent car CV. Harkat dalam perspektif ekonomi Islam. Share: Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam, 2(2), 151. https://doi.org/10.22373/share.v2i2.1496

Subaidi, S., & Muzakki, A. (2019). Akad qardl hasan sebagai solusi ekonomi kerakyatan. Istidlal: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, 3(1), 42–56. https://doi.org/10.35316/istidlal.v3i1.129

Warman, A. B., & Hayati, R. F. (2022). Tahkim dalam standar syariah dan urgensinya terhadap penyelesaian sengketa ekonomi syariah di Indonesia. Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 22(01), 37–58. https://doi.org/10.32939/islamika.v22i01.1246

Wazin, W. (2020). HAM dalam perspektif hukum ekonomi Islam. Al Qisthas: Jurnal Hukum dan Politik, 11(1). https://doi.org/10.37035/alqisthas.v11i1.3320

Zamroni, M. (2018). Kewenangan hakim mengadili sengketa kontrak. Halu Oleo Law Review, 1(1), 105. https://doi.org/10.33561/holrev.v1i1.2353

Zawawi, Z. (2017). Fatwa klausul sanksi dalam akad: studi komparatif fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Majma’ Fiqh Organisasi Konferensi Islam (OKI). Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, 16(2), 237. https://doi.org/10.18326/ijtihad.v16i2.237-255

Zulkarnaen, V. Z. (2020). Perlindungan musytari terhadap klausula baku dalam pembiayaan murabahah bil wakalah PT. Bank BRI Syariah, Tbk. Lex Renaissance, 5(1). https://doi.org/10.20885/jlr.vol5.iss1.art9

Downloads

Published

2026-01-01

Issue

Section

Articles