Affidavit menurut Hukum Islam: Pemetaan Fungsional dalam Sistem Pembuktian Peradilan Modern
Keywords:
affidavit, alat bukti, hukum Islam, pembuktian, sumpah, bayyinahAbstract
This article examines the position of affidavit as a means of evidence from the perspective of Islamic law through a functional mapping approach. An affidavit, understood as a written statement made under oath before an authorized official, is not recognized as a classical category in the fuqahā’s classification of evidence; however, it can be functionally mapped onto two elements recognized in the Islamic evidentiary tradition, namely written evidence (kitābah/maktūbah) and oath (yamīn). Within Indonesia’s closed and restricted civil evidentiary system, the affidavit is constructed as written evidence containing elements of witness testimony and oath, and is positioned as supplementary evidence. The practice of the Malaysian Syariah Court demonstrates that affidavits are used procedurally, including to prove the service of documents and to fulfill requirements for case admission. This study concludes that the acceptance of affidavit within the Islamic legal framework is principally related to its function of revealing truth and strengthening the judge’s conviction, while operationally it is determined by adherence to oath procedures and the qualification of evidence applicable in the relevant judicial forum.
Artikel ini mengkaji kedudukan affidavit sebagai alat bukti dalam perspektif hukum Islam melalui pendekatan pemetaan fungsional. Affidavit, yang dipahami sebagai pernyataan tertulis di bawah sumpah di hadapan pejabat berwenang, tidak dikenal sebagai kategori klasik dalam klasifikasi alat bukti fuqahā’, namun dapat dipetakan secara fungsional ke dalam dua unsur yang diakui dalam tradisi pembuktian Islam, yakni bukti tertulis (kitābah/maktūbah) dan sumpah (yamīn). Dalam sistem pembuktian perdata Indonesia yang bersifat tertutup dan terbatas, affidavit dikonstruksi sebagai alat bukti tertulis yang mengandung unsur saksi dan sumpah, serta diposisikan sebagai alat bukti pelengkap. Praktik Mahkamah Syariah Malaysia menunjukkan affidavit digunakan secara prosedural, antara lain untuk membuktikan penyampaian dokumen dan pemenuhan syarat penerimaan perkara. Kajian ini menyimpulkan bahwa penerimaan affidavit dalam kerangka hukum Islam secara prinsip berkaitan dengan fungsi menampakkan kebenaran dan memperkuat keyakinan hakim, sedangkan secara operasional ditentukan oleh kepatuhan pada prosedur sumpah dan kualifikasi alat bukti yang berlaku di forum peradilannya.
References
Angreni, N. K. D., & Bagiastra, I. N. (2020). Affidavit sebagai alat bukti terhadap perjanjian jual-beli di bawah tangan apabila salah satu pihaknya meninggal dunia. Acta Comitas, 5(3), 547. https://doi.org/10.24843/ac.2020.v05.i03.p10
Ayuningthyas, N. I., & Lestari, A. Y. (2023). Pertimbangan hukum hakim dalam memutuskan pihak ketiga sebagai pelawan yang baik dan benar. Media of Law and Sharia, 4(4), 325–342. https://doi.org/10.18196/mls.v4i4.42
Bukido, R. (2013). Kedudukan alat bukti tulisan terhadap penyelesaian perkara di Pengadilan Agama Manado. Jurnal Ilmiah Al-Syir’ah, 11(2). https://doi.org/10.30984/as.v11i2.170
Gani, B. A., & Nisrina, N. (2020). Keengganan pasangan suami istri dalam melakukan itsbat nikah (studi kasus di Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya). Media Syari’ah: Wahana Kajian Hukum Islam dan Pranata Sosial, 20(1), 1. https://doi.org/10.22373/jms.v20i1.6505
Hasanah, F. I. (2015). Error facti pada pembuktian illegal fishing ditinjau dari hukum Islam. Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam, 1(2), 278–312. https://doi.org/10.15642/aj.2015.1.2.278-312
Ibrahim, M. F. B. (2018). Sumpah mubahalah: Studi tentang pandangan Majelis Fatwa Kebangsaan Malaysia dalam perspektif hukum Islam. Al-Risalah: Forum Kajian Hukum dan Sosial Kemasyarakatan, 12(01), 1–20. https://doi.org/10.30631/alrisalah.v12i01.433
Jamil, J. (2017). Pembuktian di peradilan agama. Jurnal Al-Qadau: Peradilan dan Hukum Keluarga Islam, 4(1), 25. https://doi.org/10.24252/al-qadau.v4i1.4973
Khoiriyah, L. (2015). Penggunaan saksi mahkota dalam pembuktian tindak pidana perjudian di Pengadilan Negeri Bangkalan. Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam, 1(1), 185–199. https://doi.org/10.15642/aj.2015.1.1.185-199
Kusmayanti, H. (2020). Akibat hukum sumpah li’an yang tidak terbukti kebenarannya terhadap status anak berdasarkan hukum Islam dan perundang-undangan. Al-Hukama, 10(1), 123–149. https://doi.org/10.15642/alhukama.2020.10.1.123-149
Rahma, N. A. binti. (2018). Penyelesaian sengketa hadhanah di Mahkamah Tinggi Syariah Malaka Tengah dalam perspektif pembaharuan hukum Islam. Al-Risalah: Forum Kajian Hukum dan Sosial Kemasyarakatan, 12(01), 1–28. https://doi.org/10.30631/al-risalah.v12i01.431
Retnowati, T. (2016). Pengakuan sebagai alat bukti dalam perkara pengingkaran keabsahan anak. E-Jurnal The Spirit of Law, 2(2), 31–48. https://doi.org/10.33121/tsl.v2i2.473
Saidurrahman, S. (2014). Perjanjian syariah pada lembaga keuangan syariah. Islamica: Jurnal Studi Keislaman, 6(2), 344. https://doi.org/10.15642/islamica.2012.6.2.344-360
Thorik, A., & Nida, M. (2022). Kejahatan seksual dan hukum Islam. Supremasi Hukum, 18(02), 12–22. https://doi.org/10.33592/jsh.v18i2.2510
Ubay, H. T., Huda, M., & Syahruddin, E. (2022). Analisis yuridis terhadap gugurnya gugatan harta bersama akibat penggugat meninggal dunia (studi kasus perkara Nomor 4256/Pdt.G/2019/PA.BKS Pengadilan Agama Bekasi). Palar | Pakuan Law Review, 8(1), 331–353. https://doi.org/10.33751/palar.v8i1.4865
Wazzan, R. K. (2018). Legalitas sumpah pocong sebagai alat bukti di Pengadilan Agama. De Jure: Jurnal Hukum dan Syar’iah, 10(1), 21–30. https://doi.org/10.18860/j-fsh.v10i1.6516
Wibisono, Y. (2022). Kedudukan alat bukti elektronik dalam perkara di Pengadilan Agama. Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 16(2), 219–231. https://doi.org/10.56997/almabsut.v16i2.687
Yahya, F., & Alsa, W. M. (2020). Penerimaan kesaksian tanpa sumpah dalam perkara cerai talak (analisis putusan hakim tingkat banding Nomor 45/Pdt.G/2017/MS.Aceh). Media Syari’ah: Wahana Kajian Hukum Islam dan Pranata Sosial, 20(2), 242. https://doi.org/10.22373/jms.v20i2.6517
Yusuf, Y. S. (2013). Penerapan sistem pembuktian terbalik untuk kasus korupsi: Kajian antara hukum positif dan hukum Islam. Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, 8(1). https://doi.org/10.21274/epis.2013.8.1.207-233
Zaman, M. (2018). Analisis istihsan atas pertimbangan hakim terhadap saksi non-Muslim pada perkara perceraian. Al-Hukama, 8(2), 507–531. https://doi.org/10.15642/alhukama.2018.8.2.507-531