Akseptasi dalam Perspektif Hukum Islam: Kajian Konseptual Atas Qabul sebagai Unsur Pembentuk Akad
Keywords:
akseptasi, qabul, ijab, akad, hukum Islam, lembaga keuangan syariahAbstract
Acceptance refers to a declaration of receipt or consent to an offer resulting in the formation of an agreement; in the law of negotiable instruments, it denotes the acceptance of a bill of exchange by the drawee. In Islamic law, acceptance is examined within the framework of akad (contract) through the mechanism of ijab (offer) and qabul (acceptance). This article aims to comprehensively examine the concept of acceptance from an Islamic legal perspective, encompassing its definition, pillars and conditions, forms, binding force, and application in Islamic financial institutions. The method employed is a normative-doctrinal study based on a literature review of Islamic law, civil law, and Islamic economic law. The findings indicate that acceptance in Islamic law is essentially identical to qabul as an element of shighat al-’aqd, which requires freedom of will, legal capacity of the parties, conformity with the content of the offer, and compliance with Sharia principles. Acceptance may be expressed orally, in writing, through gestures, conduct, or electronically. A contract arising from valid acceptance is binding and must be fulfilled, and cannot be unilaterally withdrawn unless there is a legally recognized justification. In the practice of Islamic financial institutions, acceptance is operationalized through consent documents and contract signing, with dispute resolution conducted through deliberation, the Religious Court, or Sharia arbitration.
Akseptasi merupakan pernyataan penerimaan atau persetujuan terhadap suatu penawaran sehingga terbentuk perjanjian; dalam hukum surat berharga, akseptasi berarti penerimaan wesel oleh tertarik. Dalam hukum Islam, akseptasi dikaji melalui kerangka akad dengan mekanisme ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan). Artikel ini bertujuan mengkaji konsep akseptasi dalam perspektif hukum Islam secara komprehensif, mencakup definisi, rukun dan syarat, bentuk, kekuatan mengikat, serta penerapannya dalam praktik lembaga keuangan syariah. Metode yang digunakan adalah kajian normatif-doktrinal berbasis studi pustaka terhadap literatur hukum Islam, hukum perdata, dan hukum ekonomi syariah. Hasil kajian menunjukkan bahwa akseptasi dalam hukum Islam pada dasarnya identik dengan qabul sebagai unsur shighat akad yang mensyaratkan kebebasan kehendak, kecakapan para pihak, kesesuaian dengan isi penawaran, serta kepatuhan terhadap prinsip syariah. Akseptasi dapat dilakukan secara lisan, tertulis, melalui isyarat, perbuatan, maupun secara elektronik. Akad yang lahir dari akseptasi yang sah bersifat mengikat dan wajib dipenuhi, serta tidak dapat ditarik secara sepihak kecuali terdapat alasan hukum yang dibenarkan. Dalam praktik lembaga keuangan syariah, akseptasi dioperasionalisasi melalui dokumen persetujuan dan penandatanganan akad, dengan penyelesaian sengketa melalui musyawarah, Peradilan Agama, atau arbitrase syariah.
References
Budiwati, S. (2018). Akad Sebagai Bingkai Transaksi Bisnis Syariah. Jurnal Jurisprudence, 7(2), 152–159. https://doi.org/10.23917/jurisprudence.v7i2.4095
Cindawati, C. (2017). Perkembangan Perjanjian dalam Praktik Perdagangan (Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif). Jurisdictie Jurnal Hukum dan Syariah, 7(2), 219. https://doi.org/10.18860/j.v7i2.3717
Effendi, A. (2020). Perlindungan Hukum terhadap Investor dalam Investasi Melalui Reksadana Syariah di Indonesia. Mamba Ul Ulum, 16(2), 37–49. https://doi.org/10.54090/mu.16
Fahrunisa, I., & Nafisah, B. (2023). Analisis Fatwa DSN MUI tentang Murabahah dan Wakalah Bil Ujroh dalam Fintech Dana Syariah. Jurnal Labatila, 7(01), 27–40. https://doi.org/10.33507/lab.v7i01.1195
Hamdani, H. (2013). Analisis Implementasi Konsep Kafalah pada Bank Syariah Mandiri Banda Aceh: Studi terhadap Penyelesaian Kontra Garansi Sektor Konstruksi. Share Jurnal Ekonomi dan Keuangan Islam, 2(1), 1. https://doi.org/10.22373/share.v2i1.1421
Hardiati, N., Pary, H., & Damayanti, P. A. (2021). Penyusunan Kontrak Perjanjian Pembiayaan Ba’I Murabahah dalam Perspektif Perjanjian Hukum Perdata dan Hukum Perjanjian Syariah (Studi di PT. Bank Syariah Indonesia KCP Kopo Bandung). Al-Qisthu Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum, 19(1), 70–83. https://doi.org/10.32694/qst.v19i1.897
Hartanto, R. (2020). Hubungan Hukum Para Pihak dalam Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 27(1). https://doi.org/10.20885/iustum.vol27.iss1.art8
Idrus, N. S. (2017). Aspek Hukum Perjanjian Waralaba (Franchise) dalam Perspektif Hukum Perdata dan Hukum Islam. Jurnal Yuridis, 4(1), 28. https://doi.org/10.35586/.v4i1.125
Jani, M. A. P., Yohanes, S., & Tupen, R. R. (2023). Efektivitas Pelaksanaan Pemungutan Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kota Kupang. Comserva Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, 3(1), 296–305. https://doi.org/10.59141/comserva.v3i1.774
Mahanani, A. E. E. (2023). Analisis Perjanjian Kredit Syariah Dikaitkan dengan Mekanisme Penyelesaian Sengketa di PNM Mekaar Syariah. Jurnal Hukum Bisnis Bonum Commune. https://doi.org/10.30996/jhbbc.v6i2.9238
Mohammad, M., & Sari, I. M. D. (2022). Jaminan Gadai dalam Akad Rahn di Pegadaian Syariah Sampang. Al-Qanun Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam, 25(1), 1–16. https://doi.org/10.15642/alqanun.2022.25.1.1-16
Nurasikin, A. (2021). Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah: Take Over Pembiayaan Mikro Bank Syariah. Iqtisad Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia, 8(2), 187–206. https://doi.org/10.31942/iq.v8i2.5674
Putri, Y., & Martana, I. K. (2021). Prosedur Pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Griya pada PT. Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Mayestik Jakarta. Jurnal Administrasi Bisnis, 1(1), 62–68. https://doi.org/10.31294/jab.v1i1.382
Rohmah, N. L., dkk. (2017). Pengaruh Aspek Hukum Perjanjian (Akad) dan Penjaminan terhadap Antisipasi Pembiayaan Bermasalah pada PT. BPRS Rahma Syariah Jl. Dr. Wahidin No. 85 Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Qawānīn Journal of Economic Syaria Law, 1(1), 61–82. https://doi.org/10.30762/q.v1i1.486
Saputera, A. R. A., Suyitno, M. R., & Alkautsar, M. S. (2020). Analisis Konsekuensi terhadap Kelemahan Konsep Akad dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah. Nizham Journal of Islamic Studies, 8(02), 216. https://doi.org/10.32332/nizham.v8i02.2709
Saputro, I. A., Lutfi, A., & Sadino, S. (2024). Jaminan Government Guarantee dalam Kredit Sindikasi (Sebagai Alternatif Pembiayaan Infrastruktur Jalan Tol). Jurnal Ilmu Hukum Humaniora dan Politik, 4(1), 36–46. https://doi.org/10.38035/jihhp.v4i1.1809
Subaidi, S., & Muzakki, A. (2019). Akad Qardl Hasan sebagai Solusi Ekonomi Kerakyatan. Istidlal Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, 3(1), 42–56. https://doi.org/10.35316/istidlal.v3i1.129
Yusriadi, Y., Rahayu, S. W., & Taqwaddin, T. (2018). Implementasi Perjanjian Dana Bergulir antara Badan Kerjasama Antar Desa dengan Kelompok Masyarakat Gampong di Pidie. Syiah Kuala Law Journal, 1(1), 266–286. https://doi.org/10.24815/sklj.v1i1.12298