Akta sebagai Dokumen Tertulis Pembuktian dalam Horizon Hukum Islam: Kajian Konseptual dan Praktik

Authors

  • Eka Wahyu Hestya Budianto Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim image/svg+xml Author

Keywords:

akta, pembuktian, hukum islam, al-bayyinah, dokumen tertulis

Abstract

This article examines the concept of a deed as a written document of proof in the perspective of Islamic law and its implementation in Indonesia. Using a normative-conceptual approach and literature analysis, this study analyzes the position of deeds within the framework of al-bayyinah, maktūbah, and qarīnah as instruments of proof in Islamic law. The results show that a deed can be understood as a form of written evidence that functions to clarify the truth of legal acts, strengthen the claims of the parties, and avoid doubt in muamalah relationships. In Indonesian practice, the marriage certificate as an authentic deed made by the Marriage Registrar demonstrates the concretization of this function, namely as authentic proof of the legal act of marriage and a means of protecting the rights of wives and children. In the areas of waqf and Islamic economic contracts, the existence of deeds indicates that documentation is an operational prerequisite for administrative order and certainty of designation. Contemporary challenges, including electronic evidence and the risk of falsification, direct the discussion of deeds in Islamic law toward the main message that a deed as bayyinah must be accountable through authentication, verification, and the ethics of truth.

Artikel ini mengkaji konsep akta sebagai dokumen tertulis pembuktian dalam perspektif hukum Islam dan implementasinya di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan normatif-konseptual dan analisis literatur, kajian ini menelaah kedudukan akta dalam kerangka al-bayyinah, maktūbah, dan qarīnah sebagai instrumen pembuktian dalam hukum Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa akta dapat dipahami sebagai bentuk bukti tertulis yang berfungsi menjelaskan kebenaran perbuatan hukum, menguatkan klaim para pihak, serta menghindarkan keraguan dalam pergaulan muamalah. Dalam praktik Indonesia, akta nikah sebagai akta otentik yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah memperlihatkan konkretisasi fungsi tersebut, yakni sebagai bukti otentik atas perbuatan hukum perkawinan dan sarana proteksi hak istri dan anak. Pada area wakaf dan akad ekonomi syariah, keberadaan akta menunjukkan bahwa dokumentasi adalah prasyarat operasional bagi tertib administrasi dan kepastian peruntukan. Tantangan kontemporer, termasuk bukti elektronik dan risiko pemalsuan, mengarahkan pembahasan akta dalam hukum Islam pada pesan utama bahwa akta sebagai bayyinah harus dipertanggungjawabkan melalui autentikasi, verifikasi, dan etika kebenaran.

References

Anam, C., Sutisna, & Yono. (2022). Pelaksanaan Wasiat di Bawah Tangan Dalam Persepektif Hukum Islam dan Hukum Perdata. Rayah Al-Islam, 6(2), 131–139. https://doi.org/10.37274/rais.v6i2.544

Ariana, I. N. (2022). Tinjauan Yuridis Terhadap Kedudukan Alat Bukti Elektronik Berdasarkan Putusan MK Nomor 20/PUU-XIV/2016. Unes Law Review, 5(1), 1–19. https://doi.org/10.31933/unesrev.v5i1.277

Choirunnisa, C., Saifuddin, M., Fitriani, R. E., Nurrahma, W. V., & Mahir, M. (2022). Analisis Penggunaan CCTV Sebagai Alat Bukti Perspektif Hukum Positif Dan Hukum Islam. Ma'mal Jurnal Laboratorium Syariah Dan Hukum, 3(6), 529–548. https://doi.org/10.15642/mal.v3i6.152

Dasopang, N. (2022). Pelaksanaan Akad Musyarakah di Bank Syariah. Jurnal Alwatzikhoebillah Kajian Islam Pendidikan Ekonomi Humaniora, 8(2), 231–248. https://doi.org/10.37567/alwatzikhoebillah.v8i2.1848

Haque, S. M. (2020). Analysis of Islamic Criminal Law on the Use of CCTV Video Recording Tools (Decision Study Number 465/Pid.B/2019/PN Smg). Dusturiyah Jurnal Hukum Islam Perundang-Undangan Dan Pranata Sosial, 10(2), 151. https://doi.org/10.22373/dusturiyah.v10i2.8117

Hasanah, F. I. (2015). Error Facti Pada Pembuktian Illegal Fishing Ditinjau Dari Hukum Islam. Al-Jinayah Jurnal Hukum Pidana Islam, 1(2), 278–312. https://doi.org/10.15642/aj.2015.1.2.278-312

Helmi, H. J., & Ihya', R. (2023). Peranan Rekonstruksi Pada Proses Penyidikan Dalam Upaya Mengungkap Kejahatan. Imtiyaz Jurnal Ilmu Keislaman, 7(2), 129–150. https://doi.org/10.46773/imtiyaz.v7i2.773

Luthfia, C., & Hanif, H. A. (2022). Urgensi Pencatatan Perkawinan Perspektif Hukum Islam. Sahaja, 1(2), 85–96. https://doi.org/10.61159/sahaja.v1i2.21

Makarim, E. (2015). Keautentikan Dokumen Publik Elektronik Dalam Administrasi Pemerintahan dan Pelayanan Publik. Jurnal Hukum & Pembangunan, 45(4), 508. https://doi.org/10.21143/jhp.vol45.no4.60

Meiyona, U. R., & Shaleh, A. I. (2022). Pertanggungjawaban PPAT Terhadap Pembuatan Surat Pernyataan Keabsahan dan Kebenaran Dokumen Elektronik. Jurnal Hukum Bisnis Bonum Commune, 98–108. https://doi.org/10.30996/jhbbc.v5i1.5739

Muljono, B. E. (2017). Kekuatan Pembuktian Akta di Bawah Tangan. Jurnal Independent, 5(1), 1. https://doi.org/10.30736/ji.v5i1.59

Noor, R. M., & Muhammad, H. B. (2018). Alat Bukti Dalam Hukum Acara Perdata Indonesia Dilihat Dari Kacamata Islam. Al-Risalah Forum Kajian Hukum Dan Sosial Kemasyarakatan, 15(02), 175–197. https://doi.org/10.30631/alrisalah.v15i02.358

Novendra, G. M., & Anshori, A. (2022). Tindak Pidana Memberikan Keterangan Palsu Dalam Dokumen Akta Nikah. Jurnal Ilmiah Publika, 10(2), 477. https://doi.org/10.33603/publika.v10i2.7843

Rangkuti, D. S. A., & Ridwan, F. H. (2022). Pelaksanaan Jabatan Notaris yang Mendapat Kewenangan dari Negara Membuat Alat Bukti Autentik. Kertha Semaya Journal Ilmu Hukum, 10(5), 1207. https://doi.org/10.24843/ks.2022.v10.i05.p19

Rezhana, I., Anggono, B. D., & Ali, Moh. (2021). Sanksi Administratif Terhadap Notaris yang Menolak Protokol Notaris. Jurnal Syntax Transformation, 2(08), 1092–1110. https://doi.org/10.46799/jst.v2i8.344

Rizky, V. S. (2022). Pertanggungjawaban Notaris SA Dalam Membuat Surat Keterangan Waris Berdasarkan Keterangan Palsu (Studi Kasus Putusan Majelis Pengawas Wilayah Notaris Provinsi DKI Jakarta Nomor 03/PTS/Mj.PWN.Prov.DKIJakarta/IX/2021). Jisip (Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan), 6(3). https://doi.org/10.58258/jisip.v6i3.3298

Rohmatin, S., Widhiarto, A. E., & Sjafi'i, R. I. R. (2022). Keabsahan Surat Keterangan Ahli Waris Yang Dibuat oleh Kepala Desa/Lurah dan Camat Untuk Warga Negara Indonesia Asli. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 7(1), 256. https://doi.org/10.17977/um019v7i1p256-264

Santoso, L. (2017). Kekuatan Hukum Akta Perjanjian Tanpa Bea Materai. Istinbath Jurnal Hukum, 14(1), 131. https://doi.org/10.32332/istinbath.v14i1.742

Sanusi, I., Rato, D., & Ali, Moh. (2022). Tanggung Jawab Notaris Terhadap Pengakuan Anak Diluar Kawin Pada Hak Waris Anak Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU/VIII/2010. Mimbar Yustitia, 6(2), 118–132. https://doi.org/10.52166/mimbar.v6i2.3656

Sanyoto, S., Maryono, A. S., & Bintoro, R. W. (2013). Proses Penyelesaian Sengketa Perdata di Pengadilan Negeri Dalam Kaitannya dengan Transaksi yang Menggunakan Internet. Jurnal Dinamika Hukum, 8(2). https://doi.org/10.20884/1.jdh.2008.8.2.44

Tanady, A., Rahmi, E., & Syam, F. (2022). Urgensi Pembubuhan Meterai Pada Salinan Akta Sebagai Alat Bukti Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2020. Wajah Hukum, 6(1), 118. https://doi.org/10.33087/wjh.v6i1.814

Tuanaya, S. N. F. (2020). Fungsi Bea Meterai Dalam Surat Perjanjian. Notarius, 13(2), 879–889. https://doi.org/10.14710/nts.v13i2.31290

Wahid, A., & Shodikin, A. (2022). Alat Bukti Tindak Pidana Cybercrime Dalam Sistem Peradilan di Indonesia. Mahkamah Jurnal Kajian Hukum Islam, 7(1), 87. https://doi.org/10.24235/mahkamah.v7i1.10256

Wahyudi, J. (2012). Dokumen Elektronik Sebagai Alat Bukti Pada Pembuktian di Pengadilan. Perspektif, 17(2), 118. https://doi.org/10.30742/perspektif.v17i2.101

Wanda, H. D. (2018). Prinsip Kehati-hatian Pejabat Pembuat Akta Tanah Dalam Pengurusan Peralihan Tanah "Letter C." Masalah-Masalah Hukum, 46(2), 112. https://doi.org/10.14710/mmh.46.2.2017.112-124

Wibisono, Y. (2022). Kedudukan Alat Bukti Elektronik Dalam Perkara di Pengadilan Agama. Al-Mabsut Jurnal Studi Islam Dan Sosial, 16(2), 219–231. https://doi.org/10.56997/almabsut.v16i2.687

Wulandari, V. P. (2023). Kepastian Hukum Penggunaan Bea Meterai Dalam Surat Perjanjian. Morality Jurnal Ilmu Hukum, 9(2), 281. https://doi.org/10.52947/morality.v9i2.393

Downloads

Published

2026-01-01

Issue

Section

Articles