Akta di Bawah Tangan dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif: Kajian Normatif-Komparatif dalam Konteks Ekonomi Syariah

Authors

  • Eka Wahyu Hestya Budianto Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim image/svg+xml Author

Keywords:

akta di bawah tangan, hukum Islam, akad, tawtsiq, kekuatan pembuktian, ekonomi syariah

Abstract

This article examines the legal standing of private deeds (akta di bawah tangan) from the perspective of Islamic law and Indonesian positive law, particularly within the context of sharia economic transactions. Employing a normative-comparative approach, this study demonstrates that private deeds—documents made and signed by the parties without the involvement of a public official—constitute a well-established concept in Indonesian positive law, yet have no explicit categorical equivalent in Islamic jurisprudence (fiqh). Islamic law primarily views the validity of legal relationships through the concept of akad (offer and acceptance/ijab–qabul) and the obligation to fulfill agreements, as affirmed in QS al-Māidah: 1 and QS al-Isrā': 34, whereas the designation "private deed" is an instrument of positive law that determines evidentiary strength in litigation. This study concludes that private deeds are best understood as an instrument of tawtsiq (documentation) capable of recording agreements that are valid under sharia, with evidentiary force contingent upon the parties' acknowledgment and capable of being strengthened through notarial legalization or waarmerking mechanisms.

terutama melalui konsep akad (ijab–kabul) dan kewajiban memenuhi janji sebagaimana ditegaskan dalam QS al-Māidah: 1 dan QS al-Isrā': 34, sementara penamaan "akta di bawah tangan" merupakan perangkat hukum positif yang menentukan kekuatan pembuktian dalam forum litigasi. Kajian ini menyimpulkan bahwa akta di bawah tangan paling tepat dipahami sebagai instrumen tawtsiq (pencatatan) yang dapat merekam akad yang sah menurut syariah, dengan kekuatan pembuktian yang bergantung pada pengakuan para pihak dan dapat diperkuat melalui mekanisme legalisasi atau waarmerking notaris.

References

Anam, C., Sutisna, & Yono. (2022). Pelaksanaan wasiat di bawah tangan dalam persepektif hukum Islam dan hukum perdata. Rayah Al-Islam, 6(2), 131–139. https://doi.org/10.37274/rais.v6i2.544

Aziwantoro, J. (2018). Telaah normatif atas akta notariil dalam transaksi ekonomi syariah. Perada, 1(1), 29–44. https://doi.org/10.35961/perada.v1i1.8

Fardiyanto, A. S. (2021). Formulasi terhadap sistematika akta dalam akad syariah yang berkepastian hukum. Jurnal Lex Renaissance, 6(2). https://doi.org/10.20885/jlr.vol6.iss2.art8

Faturohmah, I. (2018). Peran notaris dalam menegakkan good corporate governance pada perbankan syariah. Lex Renaissance, 3(1). https://doi.org/10.20885/jlr.vol3.iss1.art10

Fidhayanti, D. (2017). Kekuatan mengikat perjanjian di bawah tangan dalam pembiayaan bank syariah. Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah, 8(1), 45. https://doi.org/10.18860/j.v7i3.4332

Hana, K. F., & Dimam, I. (2022). Diskursus akad pembiayaan bank syariah dalam perspektif hukum di Indonesia. Tawazun: Journal of Sharia Economic Law, 5(1),

59. https://doi.org/10.21043/tawazun.v5i1.13731

Heriyanti, H., Isnainul, O., & Julianda, R. (2023). Tinjauan yuridis pengikatan hak tanggungan atas akad pembiayaan/kredit di bawah tangan pada perbankan syariah (studi pada Bank Aceh Syariah Cabang Singkil). Iblam Law Review, 3(3), 375–391. https://doi.org/10.52249/ilr.v3i3.157

Luthfia, C., & Hanif, H. A. (2022). Urgensi pencatatan perkawinan perspektif hukum Islam. Sahaja, 1(2), 85–96. https://doi.org/10.61159/sahaja.v1i2.21

Masriani, Y. T. (2017). Urgensi akta notariil dalam transaksi ekonomi syariah. Journal of Islamic Studies and Humanities, 1(1), 1–20. https://doi.org/10.21580/jish.11.1370

Mirwansyah, M., & Kholik, S. (2023). Kekuatan hukum legalisasi notaris terhadap perjanjian hutang-piutang jika terjadi wanprestasi. Audi Et Ap: Jurnal Penelitian Hukum, 2(01), 8–17. https://doi.org/10.24967/jaeap.v2i01.2072

Mulyawan, M. A., & Dewi, G. (2022). Keabsahan akta perbankan syari'ah yang dibuat notaris non-Muslim perspektif hukum Islam. Asy-Syari'ah, 23(2), 191–206. https://doi.org/10.15575/as.v23i2.14057

P, A. N. V. (2023). Akibat hukum pembiayaan dengan akad musyarakah mutanaqishah yang dilaksanakan secara di bawah tangan. Officium Notarium, 3(2), 183–193. https://doi.org/10.20885/jon.vol3.iss2.art9

Parmitasari, I. (2020). Autentikasi akad pembiayaan pada perbankan syariah dalam penggunaan lafadz basmallah. Undang: Jurnal Hukum, 3(1), 85–105. https://doi.org/10.22437/ujh.3.1.85-105

Puspitasari, I., & Hanifuddin, I. (2023). Stratifikasi akad kepemilikan harta sebagai solusi problem pembagian harta pascacerai. Tafaqquh: Jurnal Penelitian dan Kajian Keislaman, 11(1), 40–59. https://doi.org/10.52431/tafaqquh.v11i1.1168

Setiani, D., & Kholishayatuddin, A. (2022). Praktik jual beli tanah di bawah tangan perspektif hukum Islam dan undang-undang pertanahan. Jurnal Al-Hakim:

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Studi Syariah, Hukum, dan Filantropi, 4(1), 87–100. https://doi.org/10.22515/alhakim.v4i1.5149

Sirin, K. (2018). Aspek pemidanaan dalam hukum perkawinan (analisis terhadap perkawinan yang tidak dicatatkan di Indonesia). Al-Risalah: Forum Kajian Hukum dan Sosial Kemasyarakatan, 12(01), 1–15. https://doi.org/10.30631/alrisalah.v12i01.432

Sup, D. F. A. (2019). Cessie dalam tinjauan hukum Islam. Jurisprudensi: Jurnal Ilmu Syariah, Perundang-Undangan, dan Ekonomi Islam, 11(1), 44–73. https://doi.org/10.32505/jurisprudensi.v11i1.995

Zulkarnaen, V. Z. (2020). Perlindungan musytari terhadap klausula baku dalam pembiayaan murabahah bil wakalah PT. Bank BRI Syariah, Tbk. Lex Renaissance, 5(1). https://doi.org/10.20885/jlr.vol5.iss1.art9

Zulva, A., & Roisah, K. (2022). Peran notaris dalam pembuatan akad pembiayaan syariah guna menegakkan good corporate governance. Notarius, 16(3), 1251–1268. https://doi.org/10.14710/nts.v16i3.41328

Downloads

Published

2026-01-01

Issue

Section

Articles