Alat Bukti dalam Hukum Islam: Konsep, Kategori, dan Dinamika Kontemporer

Authors

  • Eka Wahyu Hestya Budianto Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim image/svg+xml Author

Keywords:

alat bukti, hukum Islam, al-bayyinah, qarīnah, pembuktian, peradilan Islam

Abstract

This article examines the concept of evidence in Islamic law through a multidisciplinary literature analysis approach encompassing jurisprudence, procedural law, and judicial practice. Proof (itsbāt) in Islamic law is grounded in the concept of al-bayyinah, which refers to everything that clarifies the truth (al-aqq) before a judge. This study analyzes the spectrum of al-bayyinah's meaning, from its narrow interpretation (equated solely with testimony/syahādah) to its broader conception (encompassing various means of proof), along with its theoretical and practical implications. The synthesis reveals that evidence in Islamic law comprises five main categories: testimony (syahādah), confession (iqrār), oath (yamīn), written proof (maktūbah), and circumstantial indication (qarīnah). Contemporary dynamics demonstrate that scientific and electronic evidence, such as fingerprints, forensic expert testimony, medical examination reports (visum et repertum), and CCTV recordings, can be categorized as qarīnah through the mechanism of judicial ijtihad. The article concludes that the scope of evidence in Islamic law is both functional and adaptive, yet continues to demand careful standards of assessment so that the objectives of proof, namely truth and justice, may be achieved.

Artikel ini mengkaji konsep alat bukti dalam hukum Islam melalui pendekatan analisis literatur multidisiplin yang mencakup kajian fikih, hukum acara, dan praktik peradilan. Pembuktian (itsbāt) dalam hukum Islam bertumpu pada konsep al-bayyinah, yakni segala sesuatu yang menjelaskan kebenaran (al-aqq) di hadapan hakim. Studi ini menelaah spektrum makna al-bayyinah dari yang sempit (identik dengan kesaksian/syahādah) hingga yang luas (mencakup berbagai sarana pembuktian), serta implikasi teoretis dan praktisnya. Hasil sintesis menunjukkan bahwa alat bukti dalam hukum Islam mencakup lima kategori utama, yaitu kesaksian (syahādah), pengakuan (iqrār), sumpah (yamīn), bukti tertulis (maktūbah), dan petunjuk/indikasi (qarīnah). Dinamika kontemporer menunjukkan bahwa bukti ilmiah dan elektronik seperti sidik jari, keterangan ahli forensik, visum et repertum, dan rekaman CCTV dapat dikategorikan sebagai qarīnah melalui mekanisme ijtihad hakim. Artikel ini menyimpulkan bahwa cakupan alat bukti dalam hukum Islam bersifat fungsional dan adaptif, tetapi tetap menuntut standar penilaian yang hati-hati agar tujuan pembuktian, yaitu kebenaran dan keadilan, dapat dicapai.

References

Alias, M. A. A., Ismail, W. A. F. W., Baharuddin, A. S., Hashim, H., Mutalib, L. A., & Mamat, Z. (2024). تزوير الكتابة وأحكامها في القانون الإسلامي والمحاكم الشرعية الماليزية: تحليل قانوني ودراسة الحالات. Lexforensica Journal of Forensic Justice and Socio-Legal Research, 1(1), 24–33. https://doi.org/10.33102/rvy7aq86

Andani, M. (2020). Kewajiban menyertakan bukti pemula oleh korban dalam proses pembuktian kasus pemerkosaan (Studi Pasal 52 Qanun Aceh No.6/2014 Tentang Hukum Jinayat). Legitimasi: Jurnal Hukum Pidana dan Politik Hukum, 9(1), 46. https://doi.org/10.22373/legitimasi.v9i1.7326

Asma, N., & Taha, F. N. (2022). Kedudukan sidik jari dalam proses penyidikan tindak pidana di Kepolisian Resor Gorontalo perspektif hukum Islam. Al-Mizan, 18(2), 163–186. https://doi.org/10.30603/am.v18i2.2899

Asmuni, A. (2014). Testimonium de auditu telaah perspektif hukum acara perdata dan fikih. Jurnal Hukum dan Peradilan, 3(2), 191. https://doi.org/10.25216/jhp.3.2.2014.191-202

Atoilah, A. N., & Yasin, B. A. A. (2019). Kesaksian non-Muslim dalam perkara perceraian menurut pendapat hakim di Pengadilan Agama Bandung. Istinbath: Jurnal Penelitian Hukum Islam, 16(1), 87. https://doi.org/10.36667/istinbath.v16i1.282

Fuadi, A. (2022). Kesaksian non-Muslim sebagai alat bukti dalam perkara perceraian menurut hukum Islam (Studi kasus di Pengadilan Agama Curup). Berasan: Journal of Islamic Civil Law, 1(1), 62. https://doi.org/10.29240/berasan.v1i1.4770

Haque, S. M. (2020). Analysis of Islamic criminal law on the use of CCTV video recording tools (Decision Study Number 465/Pid.B/2019/PN Smg). Dusturiyah: Jurnal Hukum Islam Perundang-Undangan dan Pranata Sosial, 10(2), 151. https://doi.org/10.22373/dusturiyah.v10i2.8117

Harizona, D. (2018). Kekuatan bukti elektronik sebagai bukti di pengadilan menurut hukum acara pidana dan hukum Islam (Penggunaan rekaman gambar closed circuit television). Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial dan Sains, 7(1), 81–98. https://doi.org/10.19109/intelektualita.v7i1.2342

Hasanah, F. I. (2015). Error facti pada pembuktian illegal fishing ditinjau dari hukum Islam. Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam, 1(2), 278–312. https://doi.org/10.15642/aj.2015.1.2.278-312

Ilmiyah, N. (2020). Relevansi pemikiran Ibnu Qayyim al-Jauziyah tentang peranan keyakinan hakim dengan sistem pembuktian dalam hukum acara pidana di Indonesia. Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam, 6(2), 420–449. https://doi.org/10.15642/aj.2020.6.2.420-449

Jamil, J. (2017). Pembuktian di peradilan agama. Jurnal Al-Qadau: Peradilan dan Hukum Keluarga Islam, 4(1), 25. https://doi.org/10.24252/al-qadau.v4i1.4973

Khoiriyah, L. (2015). Penggunaan saksi mahkota dalam pembuktian tindak pidana perjudian di Pengadilan Negeri Bangkalan. Al-Jinayah: Jurnal Hukum Pidana Islam, 1(1), 185–199. https://doi.org/10.15642/aj.2015.1.1.185-199

Kirana, G. C. (2023). Pembuktian dalam perkara perceraian di pengadilan agama. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 8(9), 5025–5036. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v8i9.13620

Lestari, D. A., Aris, A., & Wahidin, W. (2022). Analysis of jinayah fiqh on the role of visum et repertum in proving the crime of persecution. Delictum: Jurnal Hukum Pidana Islam, 1(1), 46–59. https://doi.org/10.35905/delictum.v1i2.3187

Nurdin, R., & Hendra, H. S. (2018). Kedudukan keterangan saksi ahli forensik dalam penetapan perkara pidana dalam hukum positif ditinjau dari perspektif hukum Islam. Legitimasi: Jurnal Hukum Pidana dan Politik Hukum, 7(1), 130. https://doi.org/10.22373/legitimasi.v7i1.3968

Nuriskandar, L. H. (2021). Perbandingan metode pembuktian secara qarinah di Terengganu (Malaysia) dan Aceh (Indonesia). Jurnal Darussalam: Pemikiran Hukum Tata Negara dan Perbandingan Mazhab, 1(2), 150–166. https://doi.org/10.59259/jd.v1i2.10

Retnowati, T. (2016). Pengakuan sebagai alat bukti dalam perkara pengingkaran keabsahan anak. E-Jurnal The Spirit of Law, 2(2), 31–48. https://doi.org/10.33121/tsl.v2i2.473

Roihanah, R., & Cornelia, I. (2019). Analisis yuridis kekuatan alat bukti saksi testimonium de auditu dalam sidang perceraian di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun. Al-Syakhsiyyah: Journal of Law & Family Studies, 1(1). https://doi.org/10.21154/syakhsiyyah.v1i1.1820

Siti, S., Hamdani, H., & Yulia, Y. (2019). Penerapan saksi testimonium de auditu dalam perkara itsbat nikah di Mahkamah Syar'iyah Bireuen. Suloh: Jurnal Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, 7(1), 1–28. https://doi.org/10.29103/sjp.v7i1.1979

Zulfikar, F., & Rahman, A. (2021). Kekuatan testimonium de auditu pada pembuktian perkara perceraian di pengadilan agama. Al-Ihkam: Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram, 13(1), 57–70. https://doi.org/10.20414/alihkam.v13i1.3482

رضوان، ر. ع. إ. (2012). الضبط القضائي بين الشريعة والتنظيم القانوني. مجلة الحقوق، 36(1). https://doi.org/10.34120/jol.v36i1.1819

عجيل، م. د. ح. خ. (2024). قناعة القاضي الجنائي بنظر الدعوى وإمكانية الوقوع في الخطأ القضائي (دراسة مقارنة). Al-Mahad Journal، (17)، 147–168. https://doi.org/10.61353/ma.0170147

Downloads

Published

2026-01-01

Issue

Section

Articles